5 Fakta Krusial Ini Harus Dihadapi Pilot Sebelum Pesawat Lepas Landas

fakta pilot pesawat
fakta pilot pesawat
fakta pilot pesawat
fakta pilot pesawat

Menurut agent88bet kecelakaan yang dirasakan Lion Air JT 610 sesudah 13 menit lepas landassudah menuai tidak sedikit asumsi di masyarakat. Seperti banyak sekali aksiden lain, anda tidak dapat benar-benar tahu karena hilang atau jatuhnya pesawat terbang dalam masa-masa singkat.

Dibutuhkan penyelidikan yang cermat untuk benar-benar dapat mengungkap penyebabnya. Tidak jarang, justru tidak sedikit masyarakat berpendapat pada satu dan beda hal sebagai hal pencetus aksiden tersebut, sepertikekeliruan pribadi pilot sebagai penerbang dan buruknya mesin pesawat.

Melalui unggahan video di Youtube-nya, Captain Gema Goeyardi, seorang FAA Jet & Multi Engine Flight Instructure, menguak hal-hal yang sebetulnya tidak tidak sedikit orang tahu tentang proses sampai pesawat dapat lepas landas. Baik dari segi pilot sampai teknis pesawat tersebut sendiri. Apa saja?

1. Pilot wajib mengerjakan checklist sebelum penerbangan
Hal yang tidak jarang kali hadir sebagai pertanyaan pasca aksiden pesawat ialah ‘apakah situasi pesawat pantas terbang?’ Untuk dapat mengungkap urusan tersebut, pasti saja dibutuhkan investigasi lebih lanjut. Namun, butuh diketahui bahwa seluruh penerbang diharuskan melakukan checklist sebelum mereka masuk ke pesawat dan lepas landas.

Checklist yang dilaksanakan meliputi Load & Trim Sheet yakni seluruh detil pesawat yang bakal diterbangkan, laksana jumlah awak kabin, berat pesawat, berat bagasi, dan lain-lain. Kemudian, Fuel Uplift Record yaitu detil pengisian bahan bakar. Dan Flight Dispatch Release yaitu segala dokumen yang memastikan kelaikan terbang pesawat.

Semua urusan dalam checklist ini mesti melewati persetujuan Flight Operation Officer atau FOO dan pasti saja pilot tersebut sendiri.

2. Medex & Proficiency Test wajib dilaksanakan setiap 6 bulan sekali
Tidak melulu pada ketika tes masuk akademi penerbangan atau bekerja di maskapai saja, pilot sebagai penerbang beserta semua kru laksana pramugari & pramugara serta teknisi juga diharuskan rutin mengerjakan Medex alias Medical Examination dan Proficieny Test masing-masing 6 bulan sekali.

Aspek-aspek yang dicek dalam Medex mencakup cek laboratorium, tes audiometri, periksa gigi, periksa mata, rontgen, tes rekam jantung, EEG atau Elektro Ensefalograf, tes fisik, sampai tes kejiwaan melewati serangkaian psikotes. Sedangkan Proficiency Test sendiri dilaksanakan guna mengukur keahlian bahasa Inggris di dunia penerbangan sampai keterampilan pemungutan keputusan atau Aeronautical Decision Making.

3. Setiap pilot diajar untuk hadapi suasana darurat
Human hal seringkali jadi urusan yang pun dipertanyakan pada masing-masing kejadian hilang atau jatuhnya pesawat terbang, tidak terkecuali pada tragedi Lion Air JT 610 ini. Menyadari situasi langit yang tidak berbatas dan paling tidak terprediksi, sebetulnya pilot telah dibekali seperangkat kemampuan secara personal maupun teknis guna menghadapi kondisi terpaksa macam ini.

Keterampilan dan keterampilan ini terangkum dalam formalitas penanganan darurat untuk pilot guna menghadapi Engine Failure maupun Inflight Emergencies, merangkum pembekalan QRH atau Quick Reference Handbook juga. Keterampilan tersebut mencakup bagaimana pilot mengendalikan ketinggian,mengerjakan manuver, kecepatan, sampai teknis-teknis lainnya.

4. Kegagalan di antara mesin telah diantisipasi
Ada pesawat yang berjenis Single Engine dan terdapat pula yang Multi Engines. Pada permasalahan Lion Air JT 610 jenis pesawat yang digunakanialah Boeing 727 dengan Multi Engines. Hal yang barangkali belum tidak sedikit diketahui bahwa pesawat berjenis Multi Engines sebetulnya sudah dirancang dengan antisipasi kondisi terpaksa di udara.

Ketika merasakan kondisi terpaksa yang mengakibatkan salah satu mesin tidak berfungsi, perusahaan perancang telah mendesain pesawat guna tetapdapat terbang sampai sekitar satu jam di udara. Di samping itu, perusahaan produsen juga seringkali mengeluarkan ‘Part 25 Air Transport’ yang mencakup prosedur pengendalian kecepatan, ketinggian, dan teknis lainnya dalam situasi darurat. Sehingga, andai penerbang mengekor prosedur ini, pesawat diharapkan dapat tetap bertahan di udara.

5. Pilot telah diajar mengasah naluri ‘Personal Minimum
Hanya penerbang yang telah mendapatkan ATPL atau Airline Transport Pilot License saja yang diperkenankan membawa pesawat komersil multi-engines dengan kegiatan terjadwal. Di Indonesia sendiri, perlu jam terbangminimal 1500 jam guna mendapatkan lisensi tersebut.

Dan sekitar masa itu, pilot sebenarnya pun sudah diajar untuk tidakmelulu mengetahui tapi pun mempunyai naluri ‘Personal Minimums’ masing-masing. Personal Minimum ialah kondisi paling tidak yang diperlukan pesawat untuk dapat lepas landas dengan selamat, merangkum Pilot, Aircraft, Environment, dan External Pressure.

Bagaimana juga juga, tidak terdapat seorang juga yang mengharapkankemalangan terjadi. Yuk, anda berhenti menyebarkan kabar-kabar hoax yang sifatnya menuding satu sama lain. Semoga kesebelasan KNKT dapat segera mengungkap karena jatuhnya Lion Air JT 610 ini, ya!

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*